SIP News, Bandung Barat — Dalam rangka memperingati Hari Rabies Sedunia atau World Rabies Day 2026, Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat menggelar siaran langsung podcast di Instagram pada Senin (28/9/2026). Kegiatan tersebut mengupas tuntas fakta, risiko, penanganan, serta langkah nyata pencegahan rabies di wilayah KBB.
Rabies: Penyakit Zoonosis Mematikan yang Bisa Dicegah
Dalam sesi pemahaman dasar, dijelaskan bahwa rabies disebabkan virus Lyssavirus yang menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini disebut paling mematikan karena tingkat kematiannya mendekati 100% begitu gejala muncul, baik pada hewan maupun manusia — meskipun demikian, rabies 100% dapat dicegah dengan vaksinasi.
Di Indonesia, hewan penular utama rabies adalah anjing, diikuti kucing dan kera. Ciri hewan yang terinfeksi terbagi dua bentuk: tipe ganas — hewan menjadi agresif, menggigit tanpa sebab, takut air dan cahaya, air liur berlebihan; serta tipe diam — hewan tampak lumpuh, rahang turun, tidak mampu menelan.
Penularan terjadi terutama melalui gigitan karena virus terkandung dalam air liur hewan terinfeksi. Bisa juga melalui cakaran atau jilatan pada luka terbuka dan selaput lendir mata/mulut. Rabies tidak menular antarmanusia lewat kontak biasa.
Situasi di KBB: Risiko Tetap Ada, Vaksinasi Kunci Utama
Saat ini status rabies di Kabupaten Bandung Barat masih tertular. Kasus positif terakhir pada hewan tercatat tahun 2020, dan pada manusia tahun 2023, namun laporan kasus gigitan hewan penular rabies masih ada. Risiko tetap tinggi akibat perpindahan hewan serta banyaknya hewan liar yang belum divaksinasi.
Vaksinasi merupakan perlindungan paling efektif dengan tingkat keberhasilan di atas 95%. Hewan peliharaan sebaiknya mulai divaksin saat berusia 4 bulan, lalu diberi penguat setiap tahun seumur hidup — jangan menunggu digigit baru divaksinasi.
Pertolongan pertama jika digigit:
– Segera cuci luka dengan air mengalir dan sabun selama minimal 15 menit — langkah ini saja dapat menurunkan jumlah virus hingga 80%.
– Jangan diolesi cabai, bawang, minyak, atau diobati secara tradisional.
– Segera ke Puskesmas atau Rumah Sakit untuk mendapatkan vaksin dan serum anti-rabies.
Populasi anjing dan kucing liar yang tidak divaksinasi menjadi sumber penularan terbesar. Dinas Perikanan dan Peternakan berperan aktif melalui vaksinasi, sterilisasi bersubsidi, pembentukan kader zoonosis, serta respon cepat atas setiap laporan kasus gigitan.
Gebyar Aksi Nyata: Vaksinasi Gratis & Steril Bersubsidi
Dalam rangka memperingati Hari Rabies Sedunia, Dispernakan KBB menargetkan 2.000 dosis vaksin rabies gratis yang digelar di berbagai lokasi bekerja sama dengan klinik hewan, komunitas, serta pihak swasta. Syarat vaksinasi: hewan sehat, usia minimal 4 bulan, dan tidak sedang bunting.
Juga tersedia program sterilisasi kucing bersubsidi:
– Jantan: Rp185.000 | Betina: Rp260.000
– Dilaksanakan di Klinik Hewan Cempakamekar & Klinik Hewan Cisarua
– Syarat: sehat, usia minimal 7 bulan, betina tidak bunting, dipuasakan 8 jam sebelum tindakan.
Bahkan saat acara berlangsung, vaksinasi gratis masih digelar di Jogya Junction Lembang bekerja sama dengan RSH Jawa Barat dan PDHI Jabar 1.
Hapus Mitos, Jadi Pemilik Hewan yang Bertanggung Jawab
Masih banyak kesalahpahaman di masyarakat, seperti menganggap luka gigitan kecil tidak berbahaya, mengoleskan bumbu pada luka, atau membawa korban ke dukun — semua itu justru memperlambat penanganan medis yang menyelamatkan nyawa.
Konsep pemeliharaan hewan yang bertanggung jawab berarti: vaksinasi rutin, tidak melepaskan hewan berkeliaran, memenuhi kebutuhan hidupnya, serta mengendalikan populasi lewat sterilisasi.
Tidak melaporkan kasus gigitan sangat berisiko — penanganan terlambat bisa berujung kematian, sekaligus membiarkan virus menyebar tanpa terpantau. Kader zoonosis di tingkat desa/kelurahan menjadi garda terdepan deteksi dini, sehingga peran masyarakat melapor sangatlah vital.
Menuju Indonesia Bebas Rabies 2030
Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini antara lain cakupan vaksinasi belum mencapai 70% populasi hewan, tingginya jumlah hewan liar, serta kesadaran masyarakat yang masih perlu ditingkatkan.
“Rabies itu mematikan, tapi bisa dicegah. Kuncinya ada di tangan kita semua. Sayangi hewan dengan vaksinasi, jangan lepasliarkan, dan jika tergigit — segera cuci luka dan ke Puskesmas. Bersama-sama kita wujudkan Bandung Barat dan Indonesia bebas rabies,”
(Aad Subarja)



