SIP News, Kabupaten Subang — Berangkat dari kepedulian mendalam terhadap sesama manusia yang kerap terabaikan, Pondok Pesantren Roudlotul Ulum 2 yang berlokasi di Kp. Krapyak, Ds. Cinta Mekar, Kec. Serang Panjang, Kab. Subang, mendedikasikan diri untuk melakukan rehabilitasi dan penyembuhan bagi orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Pesantren yang dipimpin oleh KH. M. Ubaidillah A.B., atau yang akrab disapa Kang Ubay, ini telah berdiri sejak tahun 2014 di Cihanjuang sebelum akhirnya berpindah ke Kabupaten Subang. Perjalanan mulia ini berawal dari satu orang pasien ODGJ yang ditemukan di pinggir jalan oleh Kang Ubay, yang saat itu menjabat sebagai Lurah. Berkat perawatan dan pendekatan penuh kasih, pasien tersebut berhasil sembuh total hingga kini berkarier sebagai manajer di Tangerang.

Metode Penyembuhan Spiritual dan Terapi Air
Berbeda dengan penanganan medis konvensional yang umumnya mengandalkan obat-obatan penenang, Pondok Pesantren Roudlotul Ulum 2 menggunakan metode pengobatan alternatif berbasis terapi air dan kerohanian (tirakat).
Proses pengobatan tersebut meliputi:
- Terapi Air Rutin: Pasien diwajibkan mandi pada waktu-waktu tertentu, seperti pukul 01.00 dini hari dan pukul 12.00 malam, serta dilanjutkan kembali pada pagi hari.
- Amalan Doa Khusus: Menerapkan metode tirakat yang dipelajari Kang Ubay dari Jawa Timur dan Banten, di antaranya membaca selawat Jibril serta doa Nabi Ibrahim (Qulna ya naru kuni bardan wa salaman ala ibrahim) yang diyakini mampu mendinginkan urat saraf yang mengalami gangguan.
- Pendekatan Kemanusiaan Total: Memanusiakan kembali para pasien yang sebagian besar telah dibuang oleh keluarga mereka akibat kondisi kejiwaannya yang parah.
Tantangan dan Keterbatasan Fasilitas
Meskipun telah banyak pasien yang berhasil disembuhkan—bahkan beberapa di antaranya kembali pulih dan meminta untuk dimakamkan di pesantren jika meninggal dunia—pihak pengelola menghadapi tantangan besar terkait keterbatasan fasilitas.

Saat ini, pesantren memiliki dua lokasi di Desa Cinta Mekar (Satu di Tangkil dan satu di Krapyak) yang juga berfungsi sebagai tempat tahfiz Al-Qur’an. Namun, keterbatasan fasilitas asrama, masjid, dan madrasah membuat pesantren hanya mampu menampung sekitar 40 orang pasien dalam satu waktu.
“Siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga, siapa yang mau kita selamatkan? Sekalipun orangnya kiai besar atau orang kaya, belum tentu hatinya tergerak untuk memanusiakan orang yang sudah dibuang,” ungkap Kang Ubay.
Harapan Dukungan Pemerintah dan Dermawan
Jajaran kepolisian, koramil, hingga pemerintah daerah di Subang sejatinya telah mengetahui keberadaan pondok pesantren ini, mengingat Kang Ubay sering diundang memberikan ceramah dan aktif bersinergi. Kendati demikian, bantuan dan realisasi nyata dari instansi sosial maupun kesehatan dirasa masih minim.
Kang Ubay berharap para dermawan, para pengusaha (aghnia), serta pemerintah khususnya Bupati Subang dan jajaran kementerian terkait, dapat tergerak hatinya untuk memberikan perhatian serta bantuan fasilitas. Dengan adanya fasilitas yang lebih layak, pesantren ini diharapkan dapat menampung lebih banyak pasien dan terus melanjutkan misi kemanusiaan dalam mengembalikan harkat dan martabat mereka yang terganggu jiwanya.
“Vicky Anugrah”



