SIP News, Bandung Barat – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Perikanan dan Peternakan resmi meluncurkan program JARING MINA SPPG, sebuah tata kelola kolaboratif yang dirancang menyatukan jaringan perikanan dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) guna memperkuat pemenuhan pangan bergizi lewat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Peluncuran yang mengusung tema “Penguatan Jaringan Perikanan dan KDMP untuk Mendukung SPPG” digelar di UPTD Pembenihan Ikan, Desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan ini dihadiri unsur pimpinan daerah, mitra SPPG, pelaku usaha perikanan, serta 24 kepala desa penerima bantuan Kolam Mini Recirculating Aquaculture System (RAS) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.
Turut hadir Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Duddy Prabowo, S.Sos., M.M., Asisten III Bidang Administrasi Umum Rini Sartika, S.Sos., M.Si., Kepala Dinas Koperasi UKM Dra. Sri Dustirawati, M.Si., Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Dra. Siti Aminah Anshoriah, M.Pd., Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Regional Bandung Ramzi, S.STP., M.A.P., serta para kepala desa penerima bantuan.
Lebih dari Sekadar Produksi
JARING MINA SPPG bukan sekadar program peningkatan hasil tangkapan atau budidaya. Program ini hadir sebagai ekosistem terpadu yang merangkai seluruh rantai pasok perikanan lokal dari hulu ke hilir.
Konsepnya: UPTD Pembenihan Ikan menyediakan benih berkualitas → KDMP menjadi pusat budidaya sekaligus pengumpul hasil → Unit Pengolahan Ikan (UPI) menaikkan nilai tambah produk → SPPG menyerap pasokan untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Dengan pola ini, produksi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan riil pasar,” ujar perwakilan pemkab.
Selama ini, tantangan utama pengembangan perikanan desa adalah pemisahan antara kegiatan produksi, pengolahan, dan pemasaran. Akibatnya, hasil panen belum tentu terserap pasar, dan petani belum memiliki kepastian penjualan. JARING MINA SPPG hadir menjembatani kesenjangan tersebut.
Desa dan KDMP Jadi Tulang Punggung Ekosistem
Teknologi Kolam Mini RAS yang diterima 24 desa memungkinkan budidaya ikan dengan sistem sirkulasi air terkendali, sehingga bisa dijalankan di lingkungan desa. Namun keberhasilan tidak hanya bergantung pada sarana fisik.
“Pembangunan kolam tidak akan maksimal tanpa kelembagaan, pengelolaan, pendampingan, dan kepastian pasar,” demikian penegasan dalam kesempatan tersebut.
Oleh karena itu, KDMP ditempatkan bukan sekadar penerima manfaat, melainkan penggerak utama: mengumpulkan hasil pembudidaya, menjaga kelancaran pasokan, membangun kemitraan dengan UPI hingga SPPG, serta memastikan manfaat ekonomi mengalir luas ke masyarakat desa.
Siklus yang Saling Menguat
Dengan tersambungnya kebutuhan ikan untuk SPPG, kelompok pembudidaya dan KDMP dapat mengatur jenis, jumlah, dan waktu panen sesuai permintaan yang jelas. Hasil kemudian diolah di UPI agar bernilai jual lebih tinggi sebelum disalurkan ke program pemenuhan gizi.
Kehadiran sistem pemantauan menyeluruh mulai dari ketersediaan benih, proses budidaya, kualitas, hingga penyerapan pasar memungkinkan pemerintah daerah memetakan kapasitas dan kebutuhan secara akurat. Ketidakseimbangan produksi dapat segera dievaluasi dan disesuaikan.
Pada akhirnya, keberhasilan JARING MINA SPPG diukur bukan hanya dari naiknya angka produksi, melainkan dari terbentuknya kepastian pasar, meningkatnya nilai tambah produk, menguatnya koperasi desa, serta terpenuhinya kebutuhan protein hewani dari sumber lokal.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Kabupaten Bandung Barat berupaya mewujudkan ekosistem perikanan yang mandiri, berkelanjutan, sekaligus menjadi penopang pangan bergizi bagi seluruh warga.
(Aad Subarja)



